Sejarah Perang Banjar adalah sejarah perang yang terjadi di kesultanan Banjar, Kalimantan Selatan dan
Kalimantan Tengah. Latar belakang Perang Banjar karena konflik takhta kerajaan yang dinilai tidak tepat sesuai wasiat raja sebelumnya. Pangeran Nata, selaku saudara Sultan Tahmidillah I, berhasil membunuh Pangeran Rahmat dan Pangeran Abdullah. Kedua pangeran tersebut adalah putra Sultan Tahmidillah I yang sekiranya akan mewarisi tahta kerajaan banjar. Kemenangan Pangeran Nata, tak luput dari campur tangan Belanda menjadikannya Sultan Tahmidillah II. Tapi hal itu tak berlangsung lama karena Pangeran Amir, salah satu putra Sultan Tahmidillah I yang selamat dari upaya pembunuhan menantang Sultan Tahmidillah II.
Sayangnya, kemenangan tidak diraih Pangeran Amir. Ia kemudian ditangkap untuk dibuang di Ceylon. Kemenangan itu akhirnya membawa Belanda mendapatkan wilayah Banjar lagi. Sultan Tahmidillah II wafat dan digantikan Sultan Sulaiman. Sang sultan sendiri hanya mampu memimpin 2 tahun (1824-1825). Lalu Sultan Adam diangkat untuk mengisi kedudukan tersebut. Masa Sultan Adam, kesultanan Banjar hanya tinggal mendapat beberapa bagian saja di daerahnya. Selebihnya sudah dimiliki Belanda. Sultan Adam wafat pada 1857. Kemudian Belanda menggantinya dengan Pangeran Tamjidillah. Sebenarnya keputusan itu tidak disetujui rakyat. Mereka tahu tabiat buruk sang pangeran dan juga menginginkan wasiat Sultan Adam yang menginginkan Pangeran Hidayatullah sebagai penerusnya. Namun, hal ini tak diindahkan Belanda yang tetap saja mengangkat Pangeran Tamjidillah. Belanda terus menunjukkan sikap yang menyiksa rakyat Indonesia. Maka, Pangeran Antasari (putra Pangeran Amir) yang sudah sejak kecil terbiasa dengan ajaran Islam yang baik dan benar, juga selalu pemimpin rakyat, memutuskan akan memimpin perlawanan. Pangeran Antasari berusaha menghimpun seluruh lapisan rakyat untuk melakukan perlawanan itu. Ia bahkan mengajak Pangeran Hidayatullah untuk bergabung melawan Belanda pada 28 April 1859.
Perlawanan Banjar Dimulai

Dua minggu sesudah sesudah Pangeran Antasari meminta Pangeran Hidayatullah bergabung, pecahlah perang banjar. Dengan siasat mengambil alih Benteng Pengaron yang juga lokasi tambang Nassau Oranje milik Belanda, penyerbuan dilakukan bersama Panglima Perang Demang Lehman. Karena Pangeran Hidayatullah tetap mendukung Pangeran Antasari, maka Belanda resmi menghapuskan kesultanan banjar pada 11 Juni 1860. Maka, kesultanan banjar resmi dipimpin residen Belanda. Belanda satu langkah lebih unggul dengan persenjataan mereka. Hal itu membuat posisi Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah melemah. Setelah menjadi pemimpin perang selama lebih kurang tiga tahun, dengan alasan kesehatan Pangeran Hidayatullah memutuskan menyerahkan diri dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Perlawanan otomatis resmi dipimpin Pangeran Antasari seorang diri. Demi menguatkan semangat pasukannya, Pangeran Antasari membuat seruan, “Hidup untuk Allah dan mati untuk Allah.” Seluruh lapisan rakyat banjar serentak memberikan julukan ‘Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin’ pada sang pangeran. Peristiwa itu terjadi pada 13 Ramadhan 1278 atau 14 Maret 1862.
Kekalahan Pangeran Antasari

Peperangansemakin sengit. Persenjataan Belanda yang lebih mumpuni dan pasukan yang terus berdatangan mampu mendesak pasukan Khalifah Mukminin. Sehingga benteng pertahanan mereka berpindah ke hulu Sungai Teweh. Oktober 1862, di markas itu, diselenggarakan rapat lima panglima. Mereka adalah Gusti Muhammad Seman, Gusti Muhammad Said (putra Pangeran Antasari), Tumenggung Surapati, Kyai Demang Lehman dan sang khalifah. Rapat tersebut berakhir begitu azan magrib terkumandang.
Beberapa hari sesudahnya, 11 Oktober 1862, Khalifah Mukminin atau Pangeran Antasari wafat karena sakit cacar. Jenazah beliau dimakamkan di Bayan Begok, Hulu Teweh. Perang tidak berhenti begitu saja. Kedua putra sang khalifah dan para panglimanya yang setia tetap melanjutkan perang. Sayangnya perlawanan itu dengan mudah dihalau Belanda. 1864, Belanda berhasil menangkap para pemimpin perang itu di gua persembunyian mereka. Beberapa panglima ada yang harus gugur dengan dihukum gantung.
Namun mereka melalukannya dengan semangat yang sudah diberikan Pangeran Antasari.
Semangat berjuang untuk berjihad di jalan Allah.